Kampung Lingkungan

Kampung Lingkungan

2017-06-21 09:01:21 +0700
  1. Alun-alun Contong
    Wilayah: Kampung Bubutan, Praban, Kawatan, Kraton dan Tumenggungan.

    Saat ini yang tersisa hanya wujud fisik dari jaman kolonial se-dangkan peninggalan keraton Surabaya hanyalah nama-nama jalannya saja. Di Alun-Alun Contong, kampung Bubutan dan Kawatan termasuk kampung yang masih mempertahankan kekhasan arsitekturnya. Banyak di antara rumah-rumah terse-but yang berusia lebih dari seabad dan masih kental dengan gaya kolonialisme yang mengadaptasi sentuhan Jawa dengan ornamen-ornamen bergaya Arab dan Cina.

  2. Bubutan
    Lokasi: Kampung Mas-pati, Kranggan, dan Koblen.

    Bubutan merupakan bagian dari kawasan pu-sat kota lama Surabaya yang berlokasi di seki-tar sungai Kalimas dan kawasan yang ditenga-rai sebagai daerah keraton Surabaya. Termasuk dalam wilayah Bubutan adalah kampung Mas-pati, Kranggan, dan Koblen. Berada di pusat Kota Surabaya wilayah Bubutan saat ini did-ominasi kegiatan perdagangan dan jasa.

  3. Peneleh
    Lokasi: Peneleh dan Plampitan berada pada delta yang membelah dua sungai yang menjadi urat nadi Surabaya kuno.

    Nama Peneleh lahir di zaman Kerajaan Singo-sari, jauh sebelum Surabaya menjadi sebuah kota. Seorang pangeran pilihan (pinilih) putra Wisnu Wadhana yang diberi pangkat setara dengan bupati mendapat daerah kekuasaan di daerah antara Sungai Pegirian dan Kalimas yang kemudian diberi nama Peneleh. Lokasi Peneleh dan Plampitan berada pada delta yang membelah dua sungai yang menjadi urat nadi Surabaya kuno, begitu strategis di lalu lintas sungai pada masa jalan darat belum dikenal peradaban Jawa.

  4. Ampel
    Lokasi: Kampung Ampel

    Kampung Ampel sejak lama dikenal sebagai kampung yang mayoritas penduduknya meru-pakan etnis Arab. Ampel menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa pada masa walisongo dan hingga saat inipun masih belum kehilangan citranya sebagai kawasan religi Is-lam dengan adanya Masjid Agung dan Makam Sunan Ampel yang mampu menyedot ribuan pengunjung dari dalam dan luar kota Surabaya terutama pada momen-momen khusus seperti pada bulan Ramadhan ataupun saat Haul su-nan Ampel.

  5. Nyamplungan
    Kampung Nyampulngan, dekat Ampel

    Lokasinya yang berdekatan dengan Ampel menunjukkan bahwa sedikit banyak wilayah Nyamplungan pada jaman dahulu juga meru-pakan daerah permukiman kaum pendatang muslim. Saat ini bersama dengan Ampel, Ny-amplungan menjadi bagian dari daerah tujuan wisata religi Islam di Surabaya. Dari sisi ekonomi, kegiatan lokal yang khas di Nyamplungan adalah usaha menjual kurma. Distri-busi pemasaran kurma yang awalnya hanya untuk konsumsi lokal kini mencakup wilayah Sura-baya dan sekitarnya serta regional antar propinsi. Usaha ini mampu memanfaatkan peluang untuk berkembang dari hanya menjual kurma kemudian sekarang juga menjual oleh-oleh haji dan um-roh beserta kelengkapan peralatan ibadah bagi kaum muslim.

  6. Kebalen
    Kelurahan Krembangan Utara

    Kampung Kebalen merupakan kampung yang berada di Kelurahan Krembangan Utara. Se-lain Kebalen, di Krembangan Utara terdapat kampung Pesapen dan Dapuan. Mayoritas penduduk kampung Kebalen merupakan suku Madura (>50%) sedangkan sisanya merupakan multi etnis (keturunan Jawa, Tionghoa, Bali dan Arab). Sebenarnya penduduk yang paling awal menghuni wilayah kampung Kebalen ada-lah para pendatang dari Bali, yang menjadikan asal usul nama ‘Kebalen’.

  7. Pegirian
    Kampung Arab

    Bersama dengan kampung Nyamplungan, Am-pel dan Panggung, kampung Pegirian meru-pakan kampung Arab di Surabaya. Sejarah kampung Pegirian selalu dikaitkan dengan keberadaan Makam Botoputih. Punden yang paling terkenal di Botoputih adalah makam Pangeran Lanang Dangiran Kyai Ageng Bron-dong.

  8. Kapasan
    Kelurahan Kapasan

    Di wilayah Kapasan terdapat makam Mbah Se-mendi (Donokerto gang II) yang disebut-sebut merupakan putra Mbah Bungkul. Sebelumnya makam ini berada di daerah Sulung, kemudian di pindah ke Kapasari, dan pada tahun 1905 akhirnya dipindah di Donokerto. Selain makam Mbah Semendi, bangunan Klenteng Boen Bio yang berkaitan erat dengan kisah kampung kungfu Kapasan juga masih bisa ditemui. Klen-teng tersebut berdiri tahun 1907 dan sampai sekarang digunakan untuk beribadah dan ser-ing didatangi oleh pengunjung dari luar Ka-pasan yang tertarik untuk mengetahui sejarah klenteng dan Kapasan.

  9. Kupang Krajan
    Wilayah Surabaya Barat, Kecamatan Sawa-han.

    Kelurahan Kupang Krajan mendapatkan pro-gram perbaikan kampung KIP Komprehensif tahun 2002, selain melakukan perbaikan fisik lingkungan program ini juga memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan stimulan modal usaha. Sebagai organisasi pengelola program dibentuk yayasan kampung, koperasi dan kelompok swadaya masyarakat. Program KIP Komprehensif di Kelurahan Kupang Krajan merupakan salah satu yang berhasil dengan in-dikator perbaikan lingkungan yang cukup baik dan eksistensi koperasi yang berkelanjutan.

  10. Kampung Lontong
    Banyu Urip

    Sebelum  menjadi kampung lontong warga Banyu Urip Lor dikenal sebagai pembuat tempe. Bahkan dulu kampung tersebut dikenal dengan sebutan bog tempe (jembatan tempe). Tempe Banyu Urip waktu itu sangat terkenal di Surabaya dengan rasa lebih enak dari tempe-tempe daerah lain karena terbuat dari kede-lai asli tanpa bahan campuran. Namun lama-kelamaan tempe Banyu Urip kalah bersaing dengan tempe Pekalongan, karena persaingan harga. Diprakarsai oleh Ibu Ramiya yang bela-jar membuat lontong dari Mbah Muntiyah, se-cara turun temurun warga kemudian banting stir menjadi pembuat lontong. Lontong Banyu Urip memiliki kekhasan karena dibungkus den-gan bagian luar daun pisang, sehingga lontong yang dihasilkan berwarna kehijauan.


  11. Kampung Hijau
    Dalam pelaksanaan Green and Clean Kota Sura-baya wilayah RW 3 berhasil menjadi juara pada tahun 2007. Di kampung tersebut Pengembangan produk daur ulang mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat meskipun masih dalam skala kecil. Produk kerajinan daur ulang yang dihasilkan berupa tas, dompet, payung, dsb. Pemasaran produk dilakukan melalui pameran. Melalui kerjasama dengan swasta, produk daur ulang telah diekspor ke Jepang bersama dengan pengrajin se-Kota Surabaya.

  12. Ketintang
    "Tanah di Ketintang sebenarnya merupakan lahan subur yang ditandai dengan banyaknya lahan pertanian beberapa dekade lalu. Adanya pabrik pengilingan padi merupakan indikasi bahwa Ketintang merupakan lumbung padi Surabaya. Masih tersisa beberapa bangunan rumah lama yang menunjukkan waktu peri-ode pembangunan sekitar tahun 1930-an. Dari kualitas dan penampilan rumah-rumah yang tersisa tersebut tampak bahwa saat Ketintang menjadi lumbung padi, perekonomian pen-duduknya cukup baik. Ketintang memiliki beberapa punden yaitu makam Mbah Syekh dan Mbah Wijil yang merupakan tokoh penyebar agama Islam ketu-runan Kyai Besar Sidosermo dari Pasuruan. Pada waktu tertentu makam tersebut dikun-jungi para peziarah baik dari dalam maupun luar kota."


  13. Jambangan
    Secara berturut-turut mampu mempertahan-kan prestasi dalam ajang Green and Clean Kota Surabaya sejak tahun 2008, Kampung Jam-bangan berevolusi menjadi kampung peduli lingkungan. Lingkungan permukiman yang asri merupakan hasil upaya kader lingkungan dan masyarakat yang secara rutin malakukan keg-iatan kebersihan. Sampah dipisahkan mulai dari tingkat rumah tangga dengan sampah basah dibuat kompos dan sampah kering diolah menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis. Produk kerajinan daur ulang Kampung Jambangan telah dikenal baik di Kota Surabaya dan luar kota. Selain dipasar-kan melalui pameran, produk daur ulang ini juga telah diekspor ke Japang (bersama produk kampung lain).


  14. Morokrembangan
    Bagian utara Surabaya yang berbatasan langsung dengan Selat Madura

    Jenis kegiatan ekonomi lokal yang khas di Mo-rokrembangan adalah usaha pengrajin tas, khususnya tas wanita. Kegiatan usaha ini masih dalam skala rumah tangga dengan sebagian besar tenaga kerja merupakan penduduk seki-tar Morokrembangan. Tas-tas yang dihasilkan sebagian besar dikirim keluar Surabaya, seper-ti Lamongan dan Benjeng. Tas juga dipasarkan di Pusat Grosir Surabaya (PGS) dan beberapa daerah di luar Jawa seperti Ujung Pandang dan Samarinda. Usaha ini sudah diwadahi dalam bentuk kelompok usaha bersama yang berdiri sejak tahun 1976.


     
  15. Made
    Wilayah paling barat Kota Surabaya, berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Gresik.

    Kegiatan ekonomi lokal yang berkembang di Made adalah perta-nian, mengingat masih banyak lahan yang dapat mendukung keg-iatan tersebut. Dari lahan yang digunakan untuk pertanian hanya 35% yang merupakan milik masyarakat sedangkan 65% merupakan milik pengembang yang dipinjamkan kepada masyarakat. Terdapat 6 sub-kelompok tani bentukan masyarakat yaitu Tani Jaya, Tani Mulya, Sendang Biru, Sumber Rejeki, Ngemplak Jaya dan Subur Jaya. Cabe meru-pakan produk unggulan dari pertanian Made yang telah dipasarkan hingga Pulau Sumatra (Lampung dan Medan). Pemasaran cabe dikoordinasi oleh koperasi KKT (Koperasi Kelompok Tani) Made Mak-mur. Kegiatan pertanian ini mampu menyerap ban-yak tenaga kerja dari warga Made dan sekitar Sura-baya terutama pada saat awal penanaman. Setiap kali panen hasilnya mencapai 40 ton/hari. Selain teknik konvensional petani juga mengembangkan teknik organik yang meningkatkan hasil pertanian hingga 80%. Selain budidaya pertanian, juga dikembangkan budidaya perikanan darat yang menggunakan lahan milik BKTD (Bekas Tanah Kas Desa) dan dikelola  oleh  masing-masing  kelompok  tani yang mendapat jatah kolam dengan luas 10x30 meter. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah bandeng, bader dan nila.


  16. Gundih
    Tahun 1990-an Kampung Gundih dikenal den-gan sebutan ‘kawasan merah’, atau kampung preman. Kegelisahan akan stigma negatif lingkungan kampung memotivasi sebagian masyarakat untuk melakukan perubahan. Sebagai penggerak kegiatan dibentuk kader lingkungan yang secara rutin memberikan ara-han kepada warga untuk menjaga lingkungan masing-masing. Kebijakan yang disepakati ber-sama disusun atas dasar kepentingan umum untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-ha-ri. Diantara kebijakan yang disepakati tersebut adalah pemilahan sampah, larangan menjemur pakaian di depan rumah, dan menjaga kebersi-han lingkungan. Pendidikan lingkungan mela-lui praktek sehari-hari diterapkan pada setiap lapisan masyarakat untuk secara berkelanjutan menjaga lingkungan.Kelurahan Gundih menerapkan kebijakan se-tiap penambahan KK wajib memberikan 1 pohon mangga (dengan ukuran yang telah ditentukan) atau membayar Rp30.000,00 un-tuk pembelian pohon mangga.

  17. Kampung Ekologis
    Merdeka Dari Sampah (MDS) yang dicanangkan Kelurahan Gundih dalam beberapa tahun tera-khir secara bertahap menjadikan Gundih bersih dan asri. Sampah didaur ulang sehingga hanya sebagian kecil yang dibuang ke TPA. Sampah basah diolah menjadi kompos untuk merawat tanaman dan sampah kering dipilah setiap min-ggu. Sampah yang bisa didaur ulang, dipisah-kan untuk diolah oleh kader lingkungan men-jadi kerajinan tangan sedangkan sampah yang tidak dapat didaur ulang secara berkala, dijual dan hasilnya digunakan untuk kegiatan perawa-tan lingkungan dan pembangunan kampung. Melalui kegiatan pengelolaan lingkungan, warga mendapat peluang mengolah sampah menjadi produk bernilai jual. Dibekali bebera-pa pelatihan, kader lingkungan memanfaatkan limbah plastik untuk dijadikan produk keraji-nan tangan. Bersama pengrajin lain di Sura-baya, hasil kerajinan tangan tersebut mampu diekspor ke Jepang dan dipasarkan dalam pa-meran-pameran lokal dan nasional baik yang prakarsai oleh pemerintah maupun swasta. Selain pengembangan produk kerajinan daur ulang, hasil penjualan sampah kering juga me-miliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Saat ini telah didirikan “Bank Sampah” yang berfungsi sebagai koperasi bagi masyarakat dengan me-manfaatkan sampah sebagai media transaksi. Juga sedang dikembangkan kegiatan urban farm-ing untuk meningkatkan produktifitas.


  18. Wonorejo
    kawasan pantai timur Surabaya.

    Wonorejo yang terletak di kawasan pantai timur Surabaya merupakan kawasan kon-servasi pusat mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai yang dilindungi Pemer-intah Kota Surabaya. Berbatasan langsung dengan Selat Madura di sebelah timur, se-bagian besar wilayah Wonorejo terdiri atas tambak, tanah rawa dan hutan mangrove. Menjadi salah satu icon Kota Surabaya den-gan wisata mangrove, kampung Wonorejo mulai berbenah dalam pengelolaan kawasan wisata. Bekerja sama dengan berbagai pihak, warga bersama dengan Pemerintah Kota mel-akukan pengembangan pembibitan mangrove dan berbagai kegiatan pengembangan man-grove. Tercatat tidak hanya wisatawan dalam negeri namun juga wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan wisata mangrove Wonorejo. Wisatawan dapat melakukan perjalanan den-gan kapal menyusuri sungai untuk menuju kawasan wisata.


  19. Kedung Baruk
    Wilayah Surabaya bagian Timur.

    Kampung Kedung Baruk terletak di wilayah Surabaya bagian Timur. Sebagian besar wilayah didominasi oleh permukiman yang terdiri dari permukiman formal dan swadaya. Dalam perkembangannya Kedung Baruk akan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dengan adanya jalan arteri MERR (Middle East Ring Road) yang direncanakan hingga wilayah perbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo. Untuk mencapai target mengentaskan kemiski-nan melalui pemberdayaan masyarakat, kam-pung Kedung Baruk memiliki banyak bentuk Usaha Kecil Menengah (UKM). Tercatat terda-pat lebih dari 30 UKM yang tergabung dalam sebuah koperasi yaitu Koperasi Kampung Ung-gulan. Yang menonjol dari kegiatan UKM ada-lah pemanfaatan limbah mangrove menjadi berbagai bentuk produk, diantaranya sirup, sabun, tepung, kue kering, permen, dan lain-lain.


     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

Agenda
2017-07-24 15:58:47 +0700
pelaksanaan pentas seni 2017
2017-07-18 09:28:22 +0700
Calendar of Events Juni- Juli 2017
2017-07-17 10:54:33 +0700
Pelatihan Terapis, Kewirausahaan, dan Kepemimpinan Dispora
2017-07-17 09:33:42 +0700
Job Market Fair Juni 2017
2017-07-12 15:28:38 +0700
Pekan Koperasi Tahun 2017